🎷 The Groove: Kisah Para Pelopor Acid Jazz dan Funk Indonesia
Kisah The Groove adalah kisah tentang idealisme musikal yang berani melawan arus pop dan rock yang dominan, membawa groove yang kompleks, harmonisasi soul, dan nuansa big band ke telinga pendengar Indonesia.
I. Pembentukan dan Pencarian Groove (1996–1998)
The Groove didirikan di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1996. Band ini didirikan oleh sekumpulan mahasiswa dan musisi yang memiliki kecintaan yang sama terhadap musik acid jazz dan funk—genre yang saat itu masih sangat niche di Indonesia.
Anggota Pendiri dan Formasi Ikonik: Formasi awal yang kemudian menjadi ikonik dan stabil terdiri dari sembilan personel—sebuah ciri khas yang mengingatkan pada big band dan funk ensemble besar:
Rieka Roslan (Vokal Utama)
Yuke Sampurna (Bass)
Arie A. Prayudi (Gitar)
Reza Hernanza (Gitar)
Wawa Balawan (Drum)
Deta Gunita (Vokal)
Ali Akbar (Keyboard)
Danny Syah (Saxophone)
Herri Yasin (Trompet)
Visi Musikal: Visi mereka sangat spesifik: menyajikan funk dan acid jazz yang memiliki groove kuat, dengan brass section (saksofon dan trompet) yang menonjol, harmonisasi vokal yang soulful, dan improvisasi jazz yang cerdas. Mereka terinspirasi dari band-band funk dan jazz fusion internasional.
II. Album Debut dan Ledakan Genre (1999–2001)
Setelah membangun reputasi live yang luar biasa di panggung-panggung komunitas musik di Bandung dan Jakarta, The Groove dilirik oleh label rekaman.
Kuingin (1999): Album debut mereka, Kuingin, adalah gebrakan besar. Di tengah dominasi pop melankolis, The Groove menyajikan sound yang cerah, upbeat, dan sangat groovy. Single "Satu Mimpiku" dan title track "Kuingin" menjadi hits besar.
Kesuksesan: Album ini diterima dengan antusias, terutama oleh kalangan muda urban yang menyukai musik dengan groove yang lebih kompleks dan sound yang lebih internasional. Mereka sukses membawa genre acid jazz yang dianggap "berat" menjadi mudah dinikmati dan populer.
Mata, Telinga, dan Hati (2001): Album kedua ini semakin mengukuhkan posisi mereka, menghasilkan hit lain seperti "Khayalan" dan menunjukkan kedewasaan komposisi yang lebih matang.
III. Turbulensi, Perubahan Formasi, dan Vakum (2002–2010)
Seperti banyak band besar, The Groove juga menghadapi turbulensi yang menguji kekompakan mereka.
Kehilangan Anggota Kunci: Salah satu pukulan terbesar adalah kepergian Yuke Sampurna (Bass), yang kemudian bergabung dengan Dewa 19. Kehilangan bassist dengan groove sekuat Yuke merupakan tantangan besar.
Pergantian Vokalis: Formasi mereka mengalami beberapa kali perubahan vokal dan instrumentasi selama era pertengahan 2000-an. Meskipun demikian, Rieka Roslan tetap menjadi wajah dan suara utama, membawa power vokal soul-nya yang tak tergantikan.
Vakum: Karena berbagai kesibukan pribadi dan proyek solo anggota, The Groove sempat memasuki masa vakum yang cukup lama di akhir 2000-an. Masing-masing anggota sibuk dengan karier masing-masing, dan industri musik juga beralih ke era digital.
IV. Reuni dan Warisan (2010–Sekarang)
Kembali ke Panggung: Kerinduan penggemar terhadap groove otentik mereka membuat The Groove memutuskan untuk kembali aktif sekitar tahun 2010. Mereka mulai tampil di festival-festival musik dan konser nostalgia.
Konsistensi Visi: Dalam penampilan reuni, mereka berupaya menghadirkan kembali sound dan chemistry formasi awal, membuktikan bahwa groove mereka tidak lekang dimakan waktu.
Warisan Abadi: The Groove dikenang sebagai band yang berani membuka pintu bagi genre acid jazz, funk, dan soul di Indonesia. Mereka membuktikan bahwa pasar musik Indonesia tidak hanya terbatas pada pop dan rock, tetapi juga haus akan musik dengan kualitas groove dan teknis yang tinggi. Lagu-lagu mereka terus didengarkan, dan mereka tetap menjadi headliner yang dicintai oleh penggemar musik yang menghargai kompleksitas dan energi funk yang ceria.
Kisah The Groove adalah kisah tentang sembilan musisi Bandung yang membawa groove dari jalanan ke chart utama, dan mengukir tempat mereka sebagai legenda funk dan soul di tanah air.
Comments
Post a Comment