Skip to main content

Barasuara

 


🌧️ Awal Mimpi: Dari Ruang Kecil ke Dentuman Pertama

Semua bermula dari seorang musisi muda bernama Iga Massardi.
Setelah lama bermain untuk proyek-proyek musik lain, Iga mulai merasakan keresahan. Ia punya banyak ide dan lirik yang tidak bisa sepenuhnya tersalurkan. Ia ingin membuat sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri — sebuah proyek yang tak hanya bicara tentang musik, tapi juga tentang jiwa dan perjalanan manusia.

Pada tahun 2011, ia mulai merangkai potongan lagu di kamar, merekam riff-riff gitar yang penuh energi dan menulis lirik-lirik yang sarat makna. Ia tidak ingin musiknya sekadar indah — ia ingin musik itu mengguncang, seperti suara badai yang membangunkan jiwa.

Dari sanalah nama itu muncul:

Barasuara — “bara” yang menyala, “suara” yang meledak.


🎤 Membentuk Barasuara

Iga tahu, untuk mewujudkan mimpi ini, ia tak bisa berjalan sendiri.
Ia mengajak teman-teman musisi yang memiliki semangat serupa:

  • Marco Steffiano (drum) – yang dikenal dengan ketepatan ritme dan gaya bermain yang meledak-ledak.

  • Gerald Situmorang (bass) – musisi yang punya rasa harmoni tinggi dan penulis lagu yang handal.

  • TJ Kusuma (gitar) – yang memberi warna rock klasik di dalam komposisi Barasuara.

  • Dan dua vokalis perempuan yang unik: Asteriska dan Puti Chitara, masing-masing dengan suara khas yang menambah lapisan harmoni dan keanggunan.

Formasi ini bukan sekadar band — tapi seperti orchestra energi, perpaduan antara kekuatan, harmoni, dan filosofi.


Tahun-Tahun Awal: Merintis dari Panggung Kecil

Barasuara memulai langkah mereka dengan tampil di berbagai panggung komunitas, kafe, dan festival musik indie di Jakarta dan Bandung.
Saat itu, mereka belum dikenal luas. Banyak yang mengatakan musik mereka “terlalu kompleks”, “tidak radio friendly”.
Namun, Barasuara tidak peduli.

Setiap kali naik ke panggung, mereka memberi semua energi yang mereka punya.
Penonton mungkin belum tahu siapa mereka, tapi setiap kali pertunjukan berakhir, penonton tak bisa berhenti bicara tentang band yang baru saja mereka lihat.
Mereka membawa sesuatu yang segar — rock yang puitis, penuh semangat, dan menggugah kesadaran.


🌊 Ledakan Pertama: Album Taifun (2015)

Setelah bertahun-tahun mengasah diri, pada 16 Oktober 2015, Barasuara akhirnya merilis album debut mereka:

🎧 “Taifun”

Album ini meledak seperti namanya.
Lagu-lagu seperti:

  • “Bahas Bahasa”

  • “Sendu Melagu”

  • “Menunggang Badai”

  • dan “Api dan Lentera”

menjadi simbol kebangkitan musik rock alternatif Indonesia.

“Taifun” bukan hanya kumpulan lagu — itu adalah manifesto dari Barasuara.
Musik mereka keras tapi bermakna, liriknya puitis tapi membumi, dan setiap lagu seperti menggambarkan pergulatan batin manusia modern.

“Kami ingin membuat musik yang bisa menggugah orang — yang bikin mereka berpikir, tapi juga bisa berteriak bersamaan.”
Iga Massardi.

Album ini mendapat pujian luas dari kritikus, memenangkan AMI Awards 2016 untuk Produksi Alternatif Terbaik, dan membawa Barasuara ke panggung besar seperti Java Jazz Festival dan Synchronize Fest.


🧭 Evolusi: Album Pikiran dan Perjalanan (2019)

Empat tahun setelah Taifun, Barasuara merilis karya yang lebih dalam dan reflektif:

💿 Pikiran dan Perjalanan (2019)

Album ini adalah cermin dari proses tumbuh mereka — dari band eksplosif menjadi band yang lebih dewasa secara musikal dan emosional.
Iga menyebut album ini sebagai “catatan perjalanan manusia mencari arti dan keseimbangan.”

Lagu-lagu seperti:

  • “Pikiran dan Perjalanan”

  • “Guna Manusia”

  • “Tentukan Arah”

menunjukkan bahwa Barasuara tidak hanya tentang teriakan dan riff gitar, tapi juga renungan dan kedewasaan.

Mereka mulai membicarakan hal-hal yang lebih filosofis — makna keberadaan, pencarian jati diri, dan perjuangan manusia modern dalam menghadapi dunia yang cepat berubah.


🚀 Menjadi Suara Zaman

Seiring waktu, Barasuara tak hanya menjadi band — mereka menjadi gerakan.
Musik mereka mulai dianggap sebagai representasi anak muda Indonesia yang berpikir kritis tapi tetap mencintai tanah air dan budaya.

Mereka tampil di banyak festival besar, termasuk We The Fest, Synchronize Fest, dan bahkan menjadi pembuka konser The 1975 di Jakarta pada tahun 2019.
Semakin banyak orang menyadari: Barasuara bukan sekadar band rock — mereka adalah kisah perjuangan, semangat, dan kebangkitan kesadaran.


🔥 Era Baru: Jalaran Sadrah (2024)

Pada Juni 2024, Barasuara kembali dengan album baru berjudul “Jalaran Sadrah”.
Judulnya diambil dari istilah Jawa yang berarti “karena kebiasaan” — sebuah refleksi tentang kebiasaan manusia yang membentuk diri dan masyarakat.

Album ini menampilkan kedewasaan mereka secara penuh: perpaduan rock, elektronik, hingga sentuhan etnik Indonesia.
Mereka menunjukkan bahwa Barasuara bukan hanya band — mereka evolusi ide dan ekspresi.


🌟 Identitas & Pengaruh

Ciri khas Barasuara ada pada:

  • Lirik-lirik puitis dan reflektif, seringkali menggunakan Bahasa Indonesia yang kuat dan indah.

  • Tiga vokal harmonis (Iga, Asteriska, Puti) yang menciptakan tekstur suara kaya.

  • Musik yang bertenaga dan penuh perasaan — rock, funk, dan kadang mistis.

  • Sikap independen, tidak mengikuti arus, tapi membuat arus sendiri.

Mereka berhasil menembus batas antara musik indie dan mainstream — tanpa kehilangan idealisme.


💬 Pesan dari Perjalanan Mereka

Barasuara menunjukkan bahwa kesuksesan bukan datang dari mengejar popularitas, tapi dari kejujuran terhadap visi dan kerja keras tanpa henti.
Mereka membuktikan bahwa musik dengan isi dan jiwa tetap bisa dicintai banyak orang.

“Kami tidak ingin hanya membuat lagu yang enak didengar, tapi lagu yang bisa hidup di dalam kepala orang.”
Iga Massardi.


🌈 Kesimpulan: Suara yang Menyala

Dari kamar kecil di Jakarta, Barasuara kini menjadi salah satu band paling berpengaruh di Indonesia.
Mereka telah melewati perjalanan panjang — penuh badai, penuh pencarian — namun tetap setia pada bara yang menyalakan langkah pertama mereka.

Mereka bukan sekadar membuat musik.
Mereka membangunkan kesadaran, satu lagu demi satu lagu.

Barasuara adalah bara yang menjelma menjadi suara.
Dan suara itu — kini menggema di seluruh penjuru negeri.

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu Musik

Kalian pasti sudah tidak asing dengan kata musik bukan? Diantara kalian mungkin banyak yang sangat suka mendengarkan musik,atau bahkan ada yang suka bermain alat musik dan bercita cita menjadi musisi? Namun, Musik itu apa? Jadi,musik pengertian simpelnya adalah salah satu cabang seni yang menggabungkan beberapa suara/nada secara berurutan teratur sehingga menjadi kesatuan yang harmonis dan enak didengar. Musik memiliki beberapa unsur diantara nya adalah tempo,irama,harmoni. " Tapi mengapa ada musik yang tidak enak didengar ?" Nah,mungkin dari kalian pasti pernah melihat secara langsung sebuah band yang sedang perform di sebuah festival atau perlombaan namun permainannya sangat tidak enak untuk didengar. Bisa jadi itu karena tempo tidak teratur,permainan antara anggota band yang tidak seirama,atau chemistry/kekompakan tim yang kurang baik.Namun bisa juga karena beberapa instrumen disetel dengan suara yang terlalu besar sehingga tertutupnya bunyi dari instrumen/vokal. Namun ada...

Tentang instrumen band

  Kalian pasti sudah tidak asing dengan alat alat musik diatas. Jadi,inilah alat alat musik yang menunjang kualitas sebuah lagu.Alat alat musik ini sering digunakan di era sekarang. Banyak sekali band lokal maupun band luar negeri yang menggunakan alat alat musik ini untuk menunjang kualitas lagu yang mereka buat.Alat alat ini menjadi pilihan karena praktis,gampang ditemukan dan alat alat tersebut sangat bisa saling melengkapi dalam sebuah band. Saya akan menjelaskan beberapa alat musik yang sering digunakan di band. -Gitar                                                                                                                     ...

Slank

  🎤 Slank: Kisah Sebuah Pemberontakan yang Menjadi Legenda Kisah Slank dimulai jauh sebelum nama itu dikenal luas, di gang-gang Potlot, Jakarta Selatan, yang kemudian menjadi markas abadi mereka. I. Awal Mula dan Pembentukan Cikini Stones Complex (1983–1990) Cikal bakal Slank adalah sebuah band SMA bernama Cikini Stones Complex (CSC) yang dibentuk pada tahun 1983 di Jakarta oleh para penggemar The Rolling Stones. Anggota Awal: Band ini sering memainkan lagu-lagu rock klasik, terutama The Rolling Stones. Anggota intinya termasuk Bimo Setiawan Sidharta (Bimbim) pada drum. Transisi ke Slank: Setelah band CSC bubar dan mengalami berbagai perubahan personel, Bimbim, sebagai motor utama, terus mencari rekan-rekan musisi yang sepaham. Ia akhirnya membentuk band baru yang dinamai Slank pada tahun 1983. Nama ini diambil dari julukan ( slengekan ) yang sering mereka terima karena gaya hidup dan gaya bermusik mereka yang bebas. Markas Potlot: Rumah keluarga Bimbim di Jalan Potlot III, ...