Skip to main content

Diskoria

Apakah kalian tau dengan band ini?Mungkin band ini sudah jarang terlihat pada saat ini.

Langsung saja,berikut kisah Diskoria diceritakan dengan gaya naratif seperti sebuah perjalanan musik yang panjang dan penuh warna 🌈

Sekitar tahun 2015, dua sahabat bernama Merdi Simanjuntak dan Fadli Aat berdiri di belakang meja DJ, memainkan lagu-lagu disko Indonesia lawas.
Bukan lagu Barat, bukan juga remix EDM seperti yang sedang hits — tapi lagu-lagu dari era emas 70-80-an: Broery Marantika, Chrisye, Utha Likumahuwa, Vina Panduwinata.

Di tengah hiruk-pikuk musik modern, dua orang ini justru menggali piringan-piringan hitam lama.
Mereka terpesona — bukan sekadar oleh nostalgia, tapi oleh kualitas musiknya.
Lalu muncul satu pertanyaan di kepala mereka:

“Kenapa musik sebagus ini dilupakan orang?”

Pertanyaan itulah yang jadi api pertama kelahiran Diskoria.


🌆 Babak Awal: Dari Pesta ke Panggung

Awalnya Diskoria bukan band. Mereka adalah “selector” — orang yang memilih dan memutar lagu, bukan yang menciptakannya.
Mereka membuat pesta kecil bernama Suara Disko, tempat orang berdansa dengan lagu-lagu Indonesia lawas.

Tanpa mereka sadari, pesta itu menjelma jadi gerakan kecil.
Orang-orang mulai menyadari, “Oh, musik Indonesia lama ternyata keren ya.”
Dari situ, Diskoria mulai dikenal.

Tapi bagi Merdi dan Aat, hanya memutar lagu orang lain tak cukup.
Mereka ingin menciptakan disko versi Indonesia zaman sekarang — sesuatu yang terasa retro tapi segar.


💿 Babak Kedua: Mencipta Musik Sendiri

Setelah empat tahun berkeliling memutar musik orang lain, pada 2019 mereka merilis lagu pertama:
“Balada Insan Muda” — hasil kerja sama dengan trio produser Laleilmanino.

Lagu itu terdengar seperti datang dari masa lalu, tapi dengan kualitas produksi modern.
Di situlah keunikan Diskoria: mereka bukan sekadar nostalgia, tapi restorasi — membangun kembali nuansa lama dengan teknologi dan rasa hari ini.

Tahun berikutnya, 2020, mereka merilis “Serenata Jiwa Lara” bersama Dian Sastrowardoyo.
Lagu itu meledak — menembus ruang dan waktu, diputar di mana-mana.
Ketika dunia sedang diam karena pandemi, musik disko ala Diskoria justru membuat orang kembali berdansa, walau dari ruang tamu masing-masing.

Merdi berkata dalam wawancara,

“Sebenarnya, ini buah perjuangan kami sejak 2015. Orang baru sadar sekarang.”


⚡ Babak Ketiga: Tantangan dan Perubahan

Perjalanan tak selalu mulus.
Ketika Diskoria makin besar, Aat memilih mundur karena perbedaan visi dan urusan pribadi.
Merdi melanjutkan dengan formasi baru bersama Daiva Prayudi (produser), Rayi Raditia, dan Pandji Dharma — musisi yang sebelumnya sering tampil live dengan mereka.

Formatnya pun berubah.
Dari duo DJ yang berdiri di balik meja, kini mereka tampil sebagai band elektronik penuh, dengan instrumen, vokal, dan penampilan panggung yang hidup.
Perubahan ini pertama kali diperlihatkan di Festival Alur Bunyi di GoetheHaus tahun 2024.


🌈 Babak Keempat: “INTONESIA” — Sebuah Puncak

Tepat sepuluh tahun sejak mereka mulai, pada 11 April 2025, Diskoria akhirnya merilis album debut: INTONESIA.
Nama itu punya makna ganda — “Into Indonesia” dan “Intonasi Indonesia.”
Sebuah perayaan, perjalanan, sekaligus pernyataan cinta terhadap musik Indonesia.

Dalam album ini mereka menggabungkan suara disko, funk, pop, dan unsur modern, sambil berkolaborasi dengan banyak musisi lintas generasi:
Chelsea Islan, Nino RAN, Aya Anjani, Dea Barandana, dan lainnya.

Bagi mereka, album ini bukan sekadar rilisan — tapi arsip budaya pop Indonesia dalam bentuk baru.
Mereka bahkan merilisnya dalam format piringan hitam, sebagai penghormatan untuk era yang menginspirasi mereka.


💫 Babak Penutup: Sebuah Misi

Kini, Diskoria bukan sekadar band atau DJ duo.
Mereka adalah jembatan — penghubung antara masa lalu dan masa depan musik Indonesia.

Mereka membuat orang muda mengenal kembali lagu-lagu lama, dan membuat musisi lama merasa karyanya dihargai lagi.
Di atas panggung, setiap dentum bass dan ketukan drum jadi pengingat bahwa musik Indonesia tak kalah dari manapun.

Atau seperti kata Merdi,

“Kami cuma ingin orang Indonesia berdansa dengan musiknya sendiri.”

Apakah setelah membaca cerita ini kalian tertarik mencoba mendengar lagu lagu dari band ini ?Jika ya,saya menyarankan kalian untuk mendengar lagu yang berjudul "C.H.R.I.S.Y.E" karena lagu ini juga yang membuat saya kenal dan suka band ini hingga saat ini😁.

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu Musik

Kalian pasti sudah tidak asing dengan kata musik bukan? Diantara kalian mungkin banyak yang sangat suka mendengarkan musik,atau bahkan ada yang suka bermain alat musik dan bercita cita menjadi musisi? Namun, Musik itu apa? Jadi,musik pengertian simpelnya adalah salah satu cabang seni yang menggabungkan beberapa suara/nada secara berurutan teratur sehingga menjadi kesatuan yang harmonis dan enak didengar. Musik memiliki beberapa unsur diantara nya adalah tempo,irama,harmoni. " Tapi mengapa ada musik yang tidak enak didengar ?" Nah,mungkin dari kalian pasti pernah melihat secara langsung sebuah band yang sedang perform di sebuah festival atau perlombaan namun permainannya sangat tidak enak untuk didengar. Bisa jadi itu karena tempo tidak teratur,permainan antara anggota band yang tidak seirama,atau chemistry/kekompakan tim yang kurang baik.Namun bisa juga karena beberapa instrumen disetel dengan suara yang terlalu besar sehingga tertutupnya bunyi dari instrumen/vokal. Namun ada...

Tentang instrumen band

  Kalian pasti sudah tidak asing dengan alat alat musik diatas. Jadi,inilah alat alat musik yang menunjang kualitas sebuah lagu.Alat alat musik ini sering digunakan di era sekarang. Banyak sekali band lokal maupun band luar negeri yang menggunakan alat alat musik ini untuk menunjang kualitas lagu yang mereka buat.Alat alat ini menjadi pilihan karena praktis,gampang ditemukan dan alat alat tersebut sangat bisa saling melengkapi dalam sebuah band. Saya akan menjelaskan beberapa alat musik yang sering digunakan di band. -Gitar                                                                                                                     ...

Slank

  🎤 Slank: Kisah Sebuah Pemberontakan yang Menjadi Legenda Kisah Slank dimulai jauh sebelum nama itu dikenal luas, di gang-gang Potlot, Jakarta Selatan, yang kemudian menjadi markas abadi mereka. I. Awal Mula dan Pembentukan Cikini Stones Complex (1983–1990) Cikal bakal Slank adalah sebuah band SMA bernama Cikini Stones Complex (CSC) yang dibentuk pada tahun 1983 di Jakarta oleh para penggemar The Rolling Stones. Anggota Awal: Band ini sering memainkan lagu-lagu rock klasik, terutama The Rolling Stones. Anggota intinya termasuk Bimo Setiawan Sidharta (Bimbim) pada drum. Transisi ke Slank: Setelah band CSC bubar dan mengalami berbagai perubahan personel, Bimbim, sebagai motor utama, terus mencari rekan-rekan musisi yang sepaham. Ia akhirnya membentuk band baru yang dinamai Slank pada tahun 1983. Nama ini diambil dari julukan ( slengekan ) yang sering mereka terima karena gaya hidup dan gaya bermusik mereka yang bebas. Markas Potlot: Rumah keluarga Bimbim di Jalan Potlot III, ...